Seorang warga yang mengungsi akibat erupsi Gunung Merapi, Ahad (7/11), meninggal di tempat pengungsian di sebelah timur kantor Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golongan Karya (Golkar) Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Komandan Daerah Distrik Militer (Dandim) 0724 Boyolali, Letkol (Arh) Soekoso Wahyudi, di Boyolali, mengatakan bahwa warga yang meninggal tersebut adalah Ny. Wiryo (90) warga Gebyok Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali. Korban meninggal dunia diduga karena sudah uzur dan mengalami kelelahan selama berada di tempat pengungsian.
Sampai kini, korban masih disemayamkan di tempat pengungsian. Rencananya almarhumah dimakamkan di pemakaman umum tempat tinggalnya di Gebyok, siang ini juga.
Setelah erupsi 26 Oktober 2010, Gunung Merapi sempat tenang sejenak, dan hanya "batuk" ringan. Tapi, bagi Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Dr Surono, tenangnya Merapi itu membuatnya curiga bahwa Merapi seperti menghimpun tenaga.
Kecurigaan Surono terbukti. Gunung Merapi kembali menggeliat dan mengeluarkan letusan lebih hebat dibandingkan erupsi pertamanya, Kamis malam menjelang Jumat dinihari, 5 November 2010. Bahkan, terakhir ini mungkin terdahsyat dalam kurun waktu 100 tahun terakhir.
Sejak erupsi 26 Oktober, sampai Jumat awal November itu, letusan Merapi telah merenggut 109 jiwa. Jumlah korban mungkin masih akan bertambah, mengingat sebagian desa terkena luapan awan panas di radius bahaya Merapi belum seluruhnya kelar disisir tim evakuasi,
Amuk Merapi yang meletus pada Jumat dini hari itu telah membuat warga Yogyakarta panik, terlebih setelah daerah bahaya diperluas menjadi radius 20 kilometer dari kawah Merapi. Yogyakarta disiram derasnya debu vulkanik, yang membuat jarak pandang di Jalan Kaliurang sampai nol meter pada Jumat siang lalu.
Hujan yang mengguyur juga membuat lahar dingin meluncur menuju kota Yogyakarta. Kali Code, dilaporkan meluap melebihi ambang batas. Status Siaga I pun diberlakukan Jumat petang.
Apakah Merapi akan berangsur normal atau justru sedang bersiap memuntahkan energi lebih besar, belum ada jawaban pasti.
Satu diskusi antara para geolog Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Earth Observatory of Singapore (EOS) membahas kondisi Merapi ini. Menurut bernagai sumber
, ada sejumlah kesimpulan menarik yang ditarik dari diskusi tersebut.
Pertama, letusan Merapi saat ini berbeda dengan letusan sebelumnya sejak tahun 1870-an. Letusan sebelumnya berasal dari magma dangkal, dengan kedalaman sekitar 2 kilometer. "Sekarang tipe eksplosif karena kelihatannya berasal dari magma sangat dalam, 6 sampai 10 kilometer," demikian informasi diperoleh
VIVAnews.
Situasi juga jadi makin sulit untuk diprediksi setelah peralatan yang masih berfungsi hanya seismometer. Sementara, alat lainnya seperti alat monitoring deformasi (EDM dan
tilt meter), alat pencatat gas, dan alat monitoring visual, rusak.
Bahkan, Kepala Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Subandriyo mengatakan gerakan gunung ini sempat tak bisa diprediksi karena kerusakan satu alat seismograf yang terkena awan panas, atau
wedhus gembel.
"Apakah mungkin terjadi letusan yang lebih besar? Jawabannya, data yang ada tidak cukup untuk menjawab hal ini," salah satu geolog mengeluh.
Para geolog was-was karena mereka tak bisa mengetahui berapa besar kantung magma-dalam. Meski begitu, ada cara lain untuk membantu memprediksi letusan selanjutnya, yakni dengan melihat komposisi kimia muntahan materi dari kawah gunung
stratovolcano berusia jutaan tahun itu.
Pengungsi Kembali Mengungsi
Posko utama pengungsian kocar-kacir pasca-letusan Merapi Jumat dinihari itu. Apalagi, radius bahaya diperluas menjadi 20 kilometer. Semua titik pengungsian kembali digeser ke tempat aman lebih aman di kota Yogyakarta.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan posko pengungsian baru adalah Youth Center, kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN). Lalu, stadion olah raga Maguwoharjo, Sleman.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat Dr Syamsul Maarif, menjelaskan saat ini jumlah pengungsi letusan Gunung Merapi sudah mencapai 127 ribu. Rinciannya 27 ribu pengungsi berada di Yogyakarta, dan sekitar 100 ribu berada di Jawa Tengah.
Agar masyarakat bisa mengungsi dengan tenang, Pemerintah bahkan mengucurkan
dana Rp100 miliar untuk membeli semua ternak. Soalnya sejumlah warga masih membandel dan kembali ke lereng gunung Merapi untuk memelihara ternak mereka.
Melihat kondisi Merapi yang serba tak pasti,
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengeluarkan instruksi. Salah satunya, kendali operasi tanggap darurat penanganan bencana mulai hari ini ada di Kepala BNPB. Mekanisme satu komando, kata Presiden, dipakai untuk mengefektifkan kerja tanggap darurat. Dalam tugasnya, Kepala BNPB akan dibantu Gubernur Jateng dan Gubernur DIY, Pangdam Diponegoro, Kapolda DIY, serta Kapolda Jateng.
Selain itu, guna memudahkan koordinasi dan dapat terus memantau kondisi rakyat korban bencana, jika memungkinkan
SBY berencana berkantor di sekitar Yogyakarta. Jika tidak, Presiden akan mencari peluang berkantor di Magelang.
Jarak aman bencana gunung Merapi yang menjadi 20 kilometer menghadirkan banyak posko-posko pengungsian baru. Dampaknya, banyak di antara posko-posko tersebut yang belum tersentuh bantuan.
Seperti dikutip dari Jalinmerapi, 7 November 2010, di posko induk Ngluwar, Muntilan, yang menampung sekitar 1.400 pengungsi belum tersentuh bantuan makanan sama-sekali. Demikian pula dengan para pengungsi yang ditampung di desa Kologendang, Ngawen, Muntilan yang juga belum mendapat bantuan.
Di Boyolali, para pengungsi di desa Tanduk, Kecamatan Ampel mencapai jumlah sekitar 1.500 orang. Sampai pagi ini, mereka belum mendapatkan bantuan. Demikian pula dengan sekitar 1.650 orang yang 300 di antaranya masih balita yang mengungsi di Trayem, Salam, Magelang.
Dapur umum pada posko pengungsian di Seyegan, Sleman saat ini membutuhkan pasokan bahan-bahan mentah untuk sekitar 1.000 jiwa yang mengungsi di sana. Adapun sebanyak 380 pengungsi di Posko Balong, Kragilan, Gantiwarno, Klaten membutuhkan selimut, tikar, dan minyak kayu putih, dan perlengkapan lainnya.
Hal yang sama dirasakan oleh 400-an orang yang bermukim di SD Purwomartani, Kalasan, Sleman. Bantuan seperti nasi bungkus, susu bayi, dan baju layak pakai sangat dibutuhkan. Di posko UPN Veteran, Yogyakarta, dilaporkan, dari 1.800 bungkus nasi yang dibutuhkan, baru tersedia 800 bungkus saja.
Seperti
VIVAnews kabarkan sebelumnya, sejak Jumat, 5 November lalu, jumlah posko pengungsian telah meningkat dua kali lipat dari 61 pos bertambah menjadi 139 pos pengungsian.
Erupsi Gunung Merapi terus terjadi sejak dini hari pukul 00.50 WIB hingga saat ini. Erupsi itu merupakan kelanjutan dari letusan pada 3 November lalu.
"Jadi kondisinya naik turun. Kadang sebentar, lalu ada letusan lagi," ujar Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono di Yogyakarta, Minggu 7 November 2010.
Menurut Surono, erupsi itu melontarkan awan panas hingga 6 kilometer (km) dari puncak Gunung Merapi. Dengan kondisi tersebut, dia meminta masyarakat benar-benar berada di zona aman yaitu berada minimal 20 kilometer dari Merapi.
Pemerintah, lanjut Surono, sudah memperingatkan agar tidak ada aktivitas apapun di zona yang sudah disterilkan. Ia juga telah meminta pihak Kepolisian dan TNI untuk memblokade di lokasi pos terakhir, dekat kampus Universitas Islam Indonesia (UII).
"Karena kondisi Merapi masih naik turun, jadi jangan sampai ada korban lagi. Iironisnya warga pun belum sepenuhnya mematuhi perintah pemerintah, bahkan mereka rela memasuki jalur tikus agar luput pengawasan dari petugas," ujarnya.
Dia juga menegaskan sampai saat ini radius yang aman adalah 20 km, tidak benar ada penambahan 25 km atau 30 km. "Itu menyesatkan" tegasnya.
Sementara itu suara gemuruh terdengar hingga 15 kilometer dari puncak. Suara itu membuat para pengungsi yang akan naik ke atas untuk memberi makan ternak kembali lagi ke bawah.
Adanya awan panas itu juga membuat petugas menghentikan proses pencarian korban siang ini. Sebelumnya petugas SAR telah menemukan 5 jenazah, yang berasal dari 4 jenazah dari Dusun Ngancar Glagaharjo dan satu jenazah belum diketahui identitasnya.
Pasca-letusan hebat Merapi 5 November lalu, 88 warga yang tinggal di sekitar gunung ini tewas. Siang ini Pemerintah berencana melakukan pemakaman masal pada 80 jasad yang kondisinya sudah parah dan bau