Pada letusan ketiga ini Gunung Merapi bereupsi paling dahsyat dibandingkan dua letusan sebelumnya sejak pertama kali bererupsi pada tanggal 26/10/2010 . Pada erupsi kali ini terdengar beberapa kali gemuruh dan gempa vulkanik sebelum merapi erupsi dan sekitar pukul 17.00 – 18.00 akhirnya merapi benar – benar bererupsi. Gunung yang merypakan teraktif di dunia ini mengelurkan letusan eksplosif pertama disertai hujan abu disekitar lereng gunung tersebut. Letusan eksplosif itu mengakibatkan banyak jatuh korban tak terkecuali Mbah Maridjan, juru kunci gunung merapi yang menjadi salah satu korban dari keganasan gunung tersebut. Bukan hanya korban jiwa dampak dari letusan eksplosif merapi 1 tapi juga membuat desa – desa disekitar lereng gunung itu menjadi desa mati dan mengalami kerusakan parah sekitar 90 %. Sampai hari ini (6/10/2010) merapi sekitar 2-3 mengeluarkan letusan eksplosif dan mengakibatkan hujan abu di sebagian besar Jogja dan daerah jawa tengah seperti Purworejo, Muntilan bahkan hujan abu sudah mencapai daerah di Jawa Barat seperti Ciamis, Tasikmalaya, Sukabumi dan Bandung.
Dampak keganasan merapi membuat warga yang terkena hujan abu menjadi pengungsi di beberapa titik di Jogja dan jawa tengah seperti di stadion Maguwoharjo dan universitas Gajah Mada dan beberapa tempat lain. Letusan eksplosif yang terjadii berulang – ulang kali membuat para pengungsi kalang kabut karena saat mereka bertahan di barak pengungsian rumah, harta benda serta keluarga mereka yang hilang bisa saja tersapu oleh lahar dingin merapi dan huaj abu.
Berdasarkan data dari berbagai sumber, korban jiwa dan luka akibat keganasan Merapi teus meningkat. Di RS Sardjito korban jiwa berjumlah 78 jiwa dan 64 jiwa sudah terindentifikasi identitasnya dan puluhan korban luka masih dirawat disana. Sedangakan di sebuah RS di daerah Klaten pihak rumah sakit suadah “angkat tangan” karna jumalah pasien bertambah sekitar 70 % dari emarin (5/10/2010) sehingga para pasien yang tak tertampung di rawat di mushola dengan peralatan seadanya.
Sementara itu aktifitas merapi terus dipantau walau hari ini (6/11/2010 ) masih aktif karena sejak kamis malam (4/11/2010 ) sampai jumat sore (5/11/2010 ) yang merupakan letusan ekpolosif ketujuh sejak letusan eksplosif pertama (26/10/2010 ). Letusan ketujuh ini membuat jarak aman kembali menjauh dari awal letusan ekslosif yang hanya berjarak 5 km dari merapi kemudian mulai menjauh menajdi 10 km pada letusan ketiga kemudian menjauh lagi menjadi 15 km pada letusan keempat dan kembali bertambah jauh menjadi 20 km pada letusan ketujuh dan kemabali semakin menjauh menjadi 25 km pada letusan kedelapan pada sabtu pagi (6/11/2010). Dampak letusan ekspolosif padasabtu siang membuat beberapa kali mengalami peningkatan jumlah debit air lebih dari 80 % dari sebelumnya seperti kali code di daerah kota baru, Jogjakarta pada sabtu pagi hanya setinggi betis orang dewasa karna tebalnya endapan lahar dingin tetapi saat siang sampai sore Jogjakarta diguyur hujan membuat debit air di kali ini meningkat drastis hingga ketinggian 2 meter lebih membuat beberapa rumah di sekitar kali ini terendam air.
Luncuran wedhus gembel tiba-tiba menyembur dari Gunung Merapi. Awan panas ini membuat tim SAR yang sedang melakukan pencarian korban tewas harus menghentikan pencarian dan berlarian ke tempat yang lebih aman.
Awan panas itu mulai meluncur sekitar pukul 10.20 WIB. Sekitar 40 orang anggota tim SAR yang sedang menyisir Dusun Ngempring dan Dusun Ngancar, Kecamatan Cangkringan, Kabupetan Sleman, DIY, berlarian turun menuju truk dan sepeda motor yang mereka bawa.
"Ada awan panas, turun!" teriak salah seorang anggota tim SAR di Dusun Ngempring, Minggu (7/11/2010).
Puluhan anggota tim SAR itu kemudian berlarian turun menuju motor dan truk. Meraka langsung memacu kencang kendaraannya untuk turun ke daerah yang lebih aman.
Awan panas yang meluncur ke arah selatan menuju Kali Gendol ini juga membuat warga Dusun Butuh, Argomulyo, Cangkringan, Sleman, beramai-ramai turun melewati Jalan Desa Sindumartani. Mereka kembali ke desa karena ingin menyelamatkan hewan ternak dan harta benda yang masih tersisa.
Hingga pukul 10.45 WIB masih terjadi letusan awan panas. Cuaca di sekitar Merapi mendung. Namun kepulan asap tersebut masih terlihat.
Selain awan panas, suara gemuruh juga terdengar dari dalam Merapi. Suara gemuruh ini cukup kuat sehingga terdengar hingga radius 20 kilometer
Awan panas itu mulai meluncur sekitar pukul 10.20 WIB. Sekitar 40 orang anggota tim SAR yang sedang menyisir Dusun Ngempring dan Dusun Ngancar, Kecamatan Cangkringan, Kabupetan Sleman, DIY, berlarian turun menuju truk dan sepeda motor yang mereka bawa.
"Ada awan panas, turun!" teriak salah seorang anggota tim SAR di Dusun Ngempring, Minggu (7/11/2010).
Puluhan anggota tim SAR itu kemudian berlarian turun menuju motor dan truk. Meraka langsung memacu kencang kendaraannya untuk turun ke daerah yang lebih aman.
Awan panas yang meluncur ke arah selatan menuju Kali Gendol ini juga membuat warga Dusun Butuh, Argomulyo, Cangkringan, Sleman, beramai-ramai turun melewati Jalan Desa Sindumartani. Mereka kembali ke desa karena ingin menyelamatkan hewan ternak dan harta benda yang masih tersisa.
Hingga pukul 10.45 WIB masih terjadi letusan awan panas. Cuaca di sekitar Merapi mendung. Namun kepulan asap tersebut masih terlihat.
Selain awan panas, suara gemuruh juga terdengar dari dalam Merapi. Suara gemuruh ini cukup kuat sehingga terdengar hingga radius 20 kilometer
eredar isu Merapi akan meletus dahsyat nanti malam hingga 8 November. Dr Surono alias Mbah Rono sebagai "penguasa" Merapi mengimbau publik tidak menyebarluaskan isu tak bertanggung jawab itu dan mengimbau publik hanya percaya informasi resmi dari pemerintah.
"Dalam keadaan seperti ini banyak saja yang memberikan informasi yang tidak bertanggung jawab. Maka itu saya harap kita bersama-sama menjaga agar suasana kondusif," ujar Kepala Pusat Vulkonologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM ini pada detikcom, Minggu (7/11/2010).
Salah satu poin dari isu yang menyebar lewat SMS/BBM berbunyi "...Gunung Merapi mulai meletus pada tanggal 26/10 sampai 5/11, dan puncaknya pada malam ini hingga tanggal 8/11." Isu itu mencatut hasil penelitian oleh tim vulkanologi dunia.
Surono menuturkan, kalaulah ada prediksi dari asiang yang berbunyi demikian, ya tidak menjadi soal. "Saya pikir boleh saja orang luar berprediksi, tapi bagi saya ini penjajah intelektual saja, tinggal bagaimana ketahanan kita saja," ujar Mbah Rono.
Surono mengatakan, hinggi kini tidak ada satu orang pun yang bisa menebak bagaimana aktivitas Merapi ke depannya. "Yang jelas sampai saat ini kondisi Merapi tidak ada yang bisa mempredikasi hari ke hari bagaimana, kepastian yang bisa sampaikan adalah masih status Awas," kata dia.
Letusan Merapi sejak Rabu (3/11) sampai yang Jumat (5/11) dini hari kemarin menurut Surono sudah cukup besar.
"Saya rasa dari yang tanggal 3 sampai 6 November kemarin itu sudah cukup besar dengan kekuatannya mencapai Volcanic Explosivity Index (VEI) 4. Jadi kalau ada yang mengatakan akan menuju segitu saya rasa sudah," jelasnya.
Surono juga mengatakan, hingga saat ini letusan Merapi masih terus terjadi. Hanya saja, intensitas dan kekakuatannya yang tidak bisa diprediksi.
"Letusan nggak henti-henti sejak itu, hanya saya intensitasnya yang kadang turun dan kadang meningkat," jelas doktor lulusan Prancis.
"Dalam keadaan seperti ini banyak saja yang memberikan informasi yang tidak bertanggung jawab. Maka itu saya harap kita bersama-sama menjaga agar suasana kondusif," ujar Kepala Pusat Vulkonologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM ini pada detikcom, Minggu (7/11/2010).
Salah satu poin dari isu yang menyebar lewat SMS/BBM berbunyi "...Gunung Merapi mulai meletus pada tanggal 26/10 sampai 5/11, dan puncaknya pada malam ini hingga tanggal 8/11." Isu itu mencatut hasil penelitian oleh tim vulkanologi dunia.
Surono menuturkan, kalaulah ada prediksi dari asiang yang berbunyi demikian, ya tidak menjadi soal. "Saya pikir boleh saja orang luar berprediksi, tapi bagi saya ini penjajah intelektual saja, tinggal bagaimana ketahanan kita saja," ujar Mbah Rono.
Surono mengatakan, hinggi kini tidak ada satu orang pun yang bisa menebak bagaimana aktivitas Merapi ke depannya. "Yang jelas sampai saat ini kondisi Merapi tidak ada yang bisa mempredikasi hari ke hari bagaimana, kepastian yang bisa sampaikan adalah masih status Awas," kata dia.
Letusan Merapi sejak Rabu (3/11) sampai yang Jumat (5/11) dini hari kemarin menurut Surono sudah cukup besar.
"Saya rasa dari yang tanggal 3 sampai 6 November kemarin itu sudah cukup besar dengan kekuatannya mencapai Volcanic Explosivity Index (VEI) 4. Jadi kalau ada yang mengatakan akan menuju segitu saya rasa sudah," jelasnya.
Surono juga mengatakan, hingga saat ini letusan Merapi masih terus terjadi. Hanya saja, intensitas dan kekakuatannya yang tidak bisa diprediksi.
"Letusan nggak henti-henti sejak itu, hanya saya intensitasnya yang kadang turun dan kadang meningkat," jelas doktor lulusan Prancis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar