Tidak dipungkiri calon pencari kerja dan lapangan kerja sangat berbanding tajam bahkan melebihi jurang antara langit dan bumi. Bukan bermaksud berlebihan namun ini fakta yang terjadi di Negara kita yang terkenal dengan kekayaan alam dan budaya itu. Itu belum termasuk kategori kelompaok orang yang berpendidikan rendah hanya lulusan SD/ lulusan SMP yang tidak memilki keahlian apa – apa semakin membuat mereka semakin terperangkap dalam status ekonomi yang semakin rendah. Ditengah kondisi tersebut ada sebagian orang yang memanfaatkan kondisi itu untuk mengeruk keuntungan dengan jalan mempekerjakan orang – orang dalam kondisi itu ke luar negeri dan dibuai dengan janji surga. Banyak dari korban terbius dan menyanggupi dengan motivasi merubah keadaan ekonomi mereka. Namun apa yang mereka dapat di Negara rantau, sebagian dari mereka mendapat perlakuan tiadak menyenangkan dari majikan seperti pemerkosaan, penyiksaan dalam berbagai bentuk sehingga tak jarang para sumber devisa itu pulang kembali ke kampong halaman dengan keadaan yang mengenaskan bahkan ada beberapa diantara mereka pulang dalam bentuk kaku (meninggal, red). Memang tidak semua para sumber devisa berakhir dengan cerita memilukan ada juga yang memiliki cerita bahgia di negeri rantau. Namun sayangnya diekspos oleh media hanya tangis dan siksa sumber devisa. Seperti dialami beberapa TKW dan TKI yang akhir – akhir ini menjadi buah bibir di masyarakat. Salah satu korban terbaru pahlawan devisa adalah TKW dari Sumbawa itu mengalami penyiksaan dan penganiyaan paling kejam adalah punggung di seteriksa dengan seterika panas dan paling kejam kedua bibir digunting oleh majikannya dan berbagi bentuk penyiksaan lain sehingga tidak menimbulkan luka secara fisik namun luka secara psikologis. Ada sebuah kasus yang lebih memilukan lagi yaitu seorang TKI asal Cianjur bernama Kikim Komalasari Binti Uko Marta yang ditemukan tewas dengan luka parah di tepi jalan Serhan, Al Abha 750 km dari Jeddah dan berbagai kasus lain seperti TKI/TKW illegal yang dideportasi oleh Negara tujuan.
Banyaknya kasus pahlawan devisa yng mengalami nasib tragis itu seharusnya menjadi perhatian pemerintah khususnya Kemenakertrans dan berbagai pihak terkait lainnya dalam menyelesaiakn masalah tentang pahlawan devisa ini. Menakertrans Muhaimin Iskandar berujar bahwa penghentian pengiriman tenaga kerja keluar negeri bukan solusi terbaik harus dipikirkan solusi yang tepat. Menurut opini saya, penghentian pengiriman phalawan devisa memang bukan solusi terbaik namun setidaknya bisa bisa menekan kasus penyiksaan dan penganiyaan terhadapa pahlawan devisa kita. Pertemuan dengan salah satu perawakilan Negara tujuan pahlawan devisa yaitu Saudi Arabia adalah salah satu upaya pemerintah dalam menangani berbagai kasus yang terjadi. Memang pemerintah memberikan tunjungan pada para pahalawan devisa itu namun itu tak berarti apa – apa jika mereka dan keluarga tidak hanya mengalami luka fisik dan psikologis dalam jangka pendek tapi juga dalam jangaka panjang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar